Senin, 22 September 2014

APEL GABUNGAN GELAR PASUKAN DAN PERALATAN PENGENDALIAN ASAP AKIBAT KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DALAM RANGKA MTQ INTERNASIONAL SUMATERA SELATAN



SELASA, 23 SEPTEMBER 2014

             Untuk menghindari kabut asap yang mungkin akan mengganggu berjalannya kegiatan MTQ International di Palembang Sumatera Selatan yang akan dilaksanakan pada tanggal 23 September 2014 ini, maka BPBD Kabupaten Ogan Ilir mengadakan Apel Gabungan gelar pasukan dan peralatan pengendalian asap akibat kebakaran hutan dan lahan. di Lapangan Pemkab Kabupaten Ogan Ilir Tanjung Senai.

            Apel ini dipimpin langsung oleh Bapak Bupati Ogan Ilir H. Mawardi Yahya yang didampingi oleh Bapak Sekretariat Daerah Ir. H. Sobli, M.Si. 

               
Sambutan Bupati Ogan Ilir ( H. Mawardi Yahya)

Laporan Kepala Pelaksana BPBD OI (Drs. Ahmad Syakroni S.Sos.MM)


             Kegiatan Apel ini  dihadiri oleh 300 orang peserta yang terdiri dari TNI, Polri, PBK, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Unsri, Satpol PP, Tagana, Rumah Sakit, Satgas BPBD Kab.OI dan SKPD terkait lainnya.


(Peserta Apel Gabungan)

             Dalam Apel ini Bupati Ogan Ilir menghimbau agar BPBD dan dinas terkait lainnya dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan ini agar dapat berkoordinasi dan bekaerja sama dengan baik.

             Jika terjadi kebakaran lahan dan hutan tim dari BPBD Kabupaten Ogan Ilir dan PBK siap meluncur ke lokasi dan untuk dinas terkait lainnya siap siaga dalam mengatasi penanggulangan bencana asap ini. untuk titik api/ hotspot berdasarkan pantauan satelit tertanggal 21 September 2014 tinggal 1 titik api, namun kita semua harus tetap siaga untuk itulah kita laksanakan Apel Gabungan gelar pasukan pada hari ini. masa status siaga darurat bencana asap sudah diperpanjang kembali dari tanggal 1 September 2014 s/d 31 Oktober 2014.

(Peserta Apel Gabungan)

             Tujuan Pelaksanaan Apel Gabungan Gelar pasukan dan perlatan pengendalaian asap akibat kebakaran hutan dan lahan dalam rangka MTQ International Sumatera Selatan yaitu:
  1.  Meningkatkan Kemampuan dan kesiapsiagaan personil serta peralatan pemadaman kebakaran hutan dan lahan
  2. Mengoptimalkan kinerja, peran dan fungsi SKPD terkait untuk pengendalian kebakaran hutan dan lahan.





Kamis, 04 September 2014

KEBAKARAN LAHAN DI KABUPATEN OGAN ILIR TAHUN 2014


               Musim Kemarau, Wilayah Sumatera Selatan akhir-akhir ini terdeteksi banyak titik panas (hotspot) yang berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan perkebunan, Untuk itu guna menanggulangi asap tersebut, pihak BPBD Kabupaten Ogan Ilir telah menyiapkan kesiapsiagaan posko penanggulangan Bencana kebakaran hutan dan lahan yang sewaktu-waktu akan terjadi di beberapa titik-titik lokasi hotspot. BPBD Kabupaten Ogan Ilir bekerja sama dengan PBK Kabupaten OI, Dinas Kehutanan dan BPBD Provinsi sumsel dalam penanggulangan bencana asap tersebut.

                Pada hari Kamis, tanggal 04 September 2014, terjadi kebakaran lahan didaerah Kota terpadu mandiri (KTM) sekitaran jalan lurus menuju Palembang- Indralaya, karena sulitnya pemadaman api yang dikarnakan jauh dari darat dan tidak bisa dicapai dengan jalan darat, maka dilakukan Water BOmbing yang dipasangkan pada helikopter untuk mematikan tirtik hotspot tersebut.

                            Berikut dokumentasi pemadaman titik api menggunakan water Bombing.














berikut peta penyebaran Hotspot Sumatera Selatan tanggal 2 September 2014



Rabu, 02 Juli 2014

POSKO SIAGA DARURAT PENANGGULANGAN BENCANA ASAP
AKIBAT  KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN
KABUPATEN OGAN ILIR TAHUN 2014

            Untuk Menanggulangi Bencana Asap di Kabupaten Ogan Ilir, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ogan Ilir mendirikan Posko Siaga Darurat Penangggulangan Bencana Asap yang bertempat di Daerah Kota Terpadu Mandiri (KTM) . Posko tersebut berdiri sejak tanggal 09 Juni sampai 09 Juli 2014. Posko Siaga Asap tersebut bekerja sama dengan Tim Pemadam Kebakaran (PBK) Kabupaten Ogan Ilir.

               Pada tanggal 03 Juli 2014 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta dan BPBD Provinsi Sumatera Selatan Meninjau Langsung lokasi Posko siaga darurat Penanggulangan Bencana Asap tersebut.






Senin, 16 Juni 2014


Kegiatan Gladi Posko dan Lapangan
Penanggulangan Bencana Tahun 2014


                  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ogan Ilir Mengadakan Kegiatan Gladi Posko dan Lapangan Penanggulangan Bencana. Yang bertujuan untuk menambah Kesiapsiagaan masyarakat dan satgas dalam menghadapi terjadinya bencana, dan meminimalkan resiko terjadinya bencana.


(Peserta Gladi Posko)

                Pembina Gladi Posko dan Lapangan dipimpin oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ogan Ilir Bapak Drs. Ahmad Syakroni,  S.Sos, MM. dan Komandan Gladi Posko dipimpin oleh Bapak Sahat Sinaga dari Danramil  402-07.
 (Pembina Gladi Posko Kepala BPBD Oi 
Bapak Drs. Ahmad Syakroni,  S.Sos, MM)

(Komandan Gladi Posko Bapak Sahat Sinaga)

                Gladi Posko tersebut di hadiri oleh 80 peserta yang terdiri dari Masyarakat sekitar Desa Pering, Polres Ogan Ilir, Danramil Ogan Ilir, PBK Ogan Ilir, PMI Ogan Ilir , Dinas Kesehatan dan dinas terkait lainnya.




                Dengan terlaksananya Kegiatan tersebut diharapkan masyarakat dan satgas dapat menambah Kesiapsiagaan jika terjadi Bencana secara tiba-tiba maupun Bencana Tahunan. 

Minggu, 15 Juni 2014

Selasa, 10 Juni 2014

Sosialisasi Kesiapsiagaan dan Pencegahan dini
Penanggulangan Bencana Tahun 2014


Selasa tanggal 10 Juni 2014 pukul 08.00 WIB Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD ) Kabupaten Ogan Ilir mengadakan Kegiatan Sosialisasi Kesiapsiagaan dan Pencegahan Dini Penanggulangan Bencana. 

Tujuan Pelaksanaan Kegiatan ini adalah : 
1. Memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman bencana
2. Menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi  dan               menyeluruh
3. Menghargai budaya lokal
4. Membangun partisipasi dan kemitraan publik serta swasta
5. Mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan dan kedermawanan.

       Kegiatan Sosialisasi Kesiapsiagaan dan Pencegahan dini Penanggulangan Bencana dibuka langsung oleh bapak Sekretaris Daerah (Sekda) Ogan ilir Bapak Ir. H. Sobli, M.Si. sambutan disampaikan oleh Kepala Pelaksana Badan penanggulangan  Bencana  (BPBD) Kabupaten Ogan Ilir bapak
Drs. Ahmad Syakroni, S.  Sos, MM. Kegiatan ini dihadiri oleh 40 peserta yang  berasal dari 16 Kecamatan di Kabupaten Ogan Ilir dan Instansi terkait.

(Sambutan dan pembukaan Kegiatan oleh Bapak Sekda OI Ir. H. Sobli, M.Si. )

(Sambutan disampaikan oleh Kepala Pelaksana  BPBD OI 
Bapak Drs. Ahmad Syakroni, S.  Sos, MM)



            Pada Kegiatan ini Materi  pertama disampaikan oleh bapak H. Syaifudin, SE selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan di Badan pennaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan.materi yang disampaikan mengenai Sosialisasi Kebencanaan dan Kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
( Materi 1 disampaikan oleh Bapak H. Syaifudin, SE)

(Materi 1)

        Dan Materi kedua disampaikan oleh Bapak Kapten Inventari Salamun selaku Komandan Koramil 402-07. materi yang disampaikan tentang Peran TNI dalam Penanggulangan Bencana.

(Materi 2 : disampaikan Bapak Kapten Inventari Salamun)

(Materi 2)

          Dengan terlaksananya Kegiatan tersebut sehingga kita dapat mengantisipasi terjadinya bencana melalui pengkoordinasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna sesuai dengan ( Pasal 1 Angka 7 UU Nomor 24 Tahun 2007) tentang Penanggulangan Bencana.


(Peserta Sosialisasi)

Kamis, 15 Mei 2014

BIMTEK DALA



Rabu/ 14 MEI 2014


BIMBINGAN TEKNIS KERUSAKAN DAN KERUGIAN 
PASCA BENCANA (DALA)


                Rabu tanggal 14 Mei 2014 pukul 08.00 WIB Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ogan Ilir mengadakaan Bimbingan Teknis Kerusakan dan Kerugian Pasca Bencana (DALA) yang bertujuan untuk mengurangi potensi kerugian/ kerusakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan masyarakat seperti jalan, sekolah, rumah sakit/ puskesmas, maupun tempat ibadah serta rumah-rumah penduduk yang mengalami kerusakan akibat bencana.
            Rapat dipimpin langsung oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Ogan Ilir Bapak Drs. Ahmad Syakroni, S. Sos, MM. pada acara Bimbingan Teknis Kerusakan dan Kerugian akibat bencana. Materi pada Bimtek DALA tersebut disampaikan oleh 
H. Hasnandar Setiawan, SE, MM, selaku Kabid Rehabilitasi dan Rekostruksi dan Afriandi Kurniawan, SIP, selaku Kasi Rehabilitasi di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan.
 (Rapat Bimtek Dala dipimpin oleh Kepala Pelaksana BPBD OI 
Drs. Ahmad Syakroni, S. Sos, MM)


 (Penyampaian Materi oleh : H. Hasnandar Setiawan, SE, MM dan
Afriandi Kurniawan, SIP)

 

               Kegiatan Bimbingan Teknis Dala ini dihadiri oleh 40 orang peserta yang terdiri dari Tim Reaksi Cepat (TRC) yang berasal dari SKPD terkait, unsur-unsur terkait dan Camat se Kabupaten Ogan ilir.
 


 (Peserta BIMTEK DALA)

rapat kontigensi

SELASA / 13 MEI 2014 


RAPAT KONTIGENSI BPBD 
KABUPATEN OGAN ILIR TAHUN 2014

                Selasa tanggal 13 Mei 2014 Pukul 09.00 WIB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Ogan Ilir mengadakan Rapat Kontigensi Penanggulangan Bencana yang diadakan di Ruang Rapat Bupati Ogan Ilir. Yang dihadiri oleh 40 orang peserta yang terdiri dari instansi terkait.


                Rapat dipimpin langsung oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Ogan Ilir Bapak Drs. Ahmad Syakroni, S. Sos, MM. pada acara Rapat Kontigensi tersebut materi disampaikan oleh H. Syaifudin, SE selaku Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan, dan Afriandi Kurniawan selaku Kasi Rehabilitasi di Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan.
 ( Rapat dipimpin langsung oleh KEPALA Pelaksana BPBD OI, 
Drs. Ahmad Sayakroni, S. Sos, MM)



 (Penyampaian Materi oleh : H. Syaifudin, SE dan Afriandi Kurniawan 
dari BPBD Provinsi Sumsel)

( Peserta Rapat dari Instansi Terkait )
                Dengan terlaksananya Rapat kontigensi ini dapat memahami langkah/ tindakan apa yang akan diambil bila terjadi bencana.

Selasa, 29 April 2014

Kejadian kebakaran di Teluk Kecapi

Selasa / 22 April 2014




KEJADIAN KEBAKARAN DI TELUK KECAPI 
KECAMATAN PEMULUTAN
  


Selasa tanggal 22 April 2014 sekitar  pukul  10.30 WIB terjadi Kebakaran di Teluk Kecapi Kecamatan Pemulutan yang menyebabkan 6 rumah hangus terbakar dengan korban sebanyak 6 KK, dalam kejadian tidak ada korban jiwa.




 ( Kejadian Kebakaran Di Teluk Kecapi, Selasa 22 April 2014 )
Penyebab kebakaran diperkirakan karena arus pendek listrik dari salah satu rumah warga. Sekitar setengah jam setelah kejadian tim Pemadam Kebakaran (PBK) Ogan Ilir datang memadamkan api. pada hari yang sama Dinas Sosial memberikan Bantuan kepada korban kebakaran.

Keesokan harinya Rabu tanggal 23 April 2014 sekitar pukul 12.00 Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ogan Ilir memberikan bantuan berupa Peralatan dapur, pangan. korban kebakaran sekarang berada di rumah keluarganya masing-masing.



                                    (Penyerahan Bantuan oleh BPBD Kab OI)
  

PEDOMAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

Manajemen Kebakaran Berbasis Masyarakat

Pada saat kebakaran yang tidak diinginkan merusak hutan dan aset lainnya, masyarakat lokal seringkali dianggap dan dicurigai sebagai penyebab karena mereka membakar hutan sewaktu menyiapkan lahan untuk kegiatan pertanian. Kalaupun tidak dipersalahkan, masyarakat lokal cenderung dipandang sebagai korban yang tidak berdaya, yang harus menanggung dampak negatif dari kebakaran hutan dan/atau lahan. Berbagai penelitian yang dilakukan di seluruh dunia menunjukkan bahwa persepsi ini perlu ditinjau kembali karena masyarakat lokal melakukan pengelolaan kebakaran dalam berbagai situasi dan untuk berbagai alasan yang berbeda. Bahkan masyarakat lokal seringkali menjadi yang terbaik dalam mengelola atau mencegah kebakaran pada skala lokal. Masyarakat lokal pun mempunyai peran yang semakin penting dalam manajemen kebakaran di negara-negara yang pemerintahannya memiliki keterbatasan untuk menangani kebakaran hutan.
Keberhasilan pelibatan masyarakat dalam manajemen kebakaran bergantung pada berbagai faktor. Motivasi masyarakat untuk mengelola kebakaran dipengaruhi oleh seberapa besar ketergantungan mereka dan/atau hak yang mereka miliki untuk menggunakan dan memiliki akses terhadap sumber-sumber daya hutan. Meskipun demikian, penting untuk disadari bahwa masyarakat tidak dapat memberikan solusi lengkap dalam menangani kebakaran hutan yang berbahaya. Pihak-pihak lain yang terlibat, termasuk pemerintah dan sektor swasta, harus ikut memainkan peranan penting, khususnya dalam persiapan menghadapi dan memadamkan kebakaran yang luas.
Berkaitan dengan penggunaan api untuk pertanian oleh masyarakat, perlu dibedakan antara api yang bermanfaat dan api yang membahayakan. Bagi masyarakat, api merupakan satu-satunya alat yang tersedia untuk menyiapkan lahan. Penggunaan api biasanya mampu dikendalikan dan skalanya pun kecil. Perlu dipahami bahwa api menjadi masalah jika penggunaannya lepas kendali.
Project Fire Fight South East Asia (PFFSEA) telah memfasilitasi pembentukan jaringan internasional bagi para peneliti dan praktisi untuk penelitian, promosi, dan mendukung lebih lanjut manajemen kebakaran berbasis masyarakat. Saat ini, manajemen kebakaran berbasis masyarakat semakin banyak menarik perhatian. Hal ini disebabkan karena adanya minat terhadap manajemen sumber daya berbasis masyarakat. Selain itu disebabkan semakin seringnya bencana kebakaran di seluruh dunia yang terjadinya akhir-akhir ini, sehingga penting untuk menemukan alternatif cara pencegahan bencana dalam skala yang sama di masa yang akan datang.

Mengapa Melibatkan Masyarakat dalam Manajemen Kebakaran?

Penduduk lokal seringkali berada dalam posisi terbaik untuk mengelola dan mencegah kebakaran pada skala lokal. Banyak kelompok masyarakat yang memiliki pengetahuan dan praktek-praktek tradisional dalam penggunaan api, yang terbukti sangat efektif. Banyak dari pengetahuan ini yang tidak ditemukan dan tidak dimanfaatkan. Peranan masyarakat lokal menjadi nyata apabila disadari bahwa kapasitas pemerintah pada tingkat lokal sangat terbatas.
Bagi masyarakat, agar mereka dapat berperan dalam pengelolaan kebakaran, mereka perlu memiliki kontrol atas sumber-sumber daya hutan dan sekaligus pengelolaannya. Oleh karena itu, promosi manajemen kebakaran berbasis masyarakat akan memperkuat konsep di mana penduduk lokal memiliki kontrol tertentu atas sumber-sumber daya hutan. Hal ini sejalan dengan gerakan demokratisasi dan desentralisasi yang terjadi di banyak negara saat ini.
Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa masyarakat tidak dapat memberikan solusi lengkap bagi kebakaran hutan. Masyarakat hanya merupakan satu bagian dari suatu pendekatan holistik untuk pengelolaan kebakaran yang memerlukan keterlibatan seluruh pihak-pihak yang terkait dengan pengelolaan lahan, terutama pemerintah dan sektor swasta. Di banyak negara, pihak swasta hampir tidak memainkan peranan dalam manajemen kebakaran hutan, meskipun fakta-fakta menunjukkan bahwa di beberapa negara sektor tersebut merupakan penyebab utama dari kebakaran-kebakaran besar.

Mengapa Masyarakat Tidak Mengelola Kebakaran?
Perubahan-perubahan dalam budaya dan praktek-praktek lokal dapat mengakibatkan kebakaran hutan yang tidak terkendali. Hal ini terjadi pada saat pengelolaan hutan secara tradisional tidak dilanjutkan lagi. Generasi yang lebih tua tidak lagi menurunkan keterampilan dan pengetahuan mereka kepada generasi yang lebih muda, sehingga menyebabkan terjadinya kesenjangan pengetahuan. Faktor lain adalah migrasi. Para pendatang yang tidak berpengalaman, yang tidak terbiasa dan tidak mempunyai keterikatan dengan lingkungan yang baru, serta tidak terikat dengan aturan-aturan tradisional, kadang-kadang membiarkan api lepas kendali. Hal ini menggambarkan pentingnya keterpaduan dan keterikatan masyarakat terhadap sumber-sumber daya lokal, baik untuk alasan ekonomi maupun alasan sentimental. Kepastian hak atas lahan merupakan insentif yang sangat penting bagi masyarakat untuk mencegah dan mengawasi kebakaran.
Api juga dapat digunakan sebagai senjata oleh mereka yang miskin dan tidak berdaya. Terdapat banyak contoh di seluruh dunia, di mana kelompok-kelompok masyarakat menggunakan api untuk merusak hutan-hutan alam atau perkebunan-perkebunan sebagai tindakan balas dendam atau untuk alasan-alasan politis. Oleh sebab itu, perbaikan manajemen api dapat dicapai melalui penanganan sebab-sebab dasar kebakaran hutan, misalnya pengalokasian lahan yang tidak adil.

Kapan Masyarakat Mengelola Kebakaran?

Sudah banyak contoh manajemen kebakaran berbasis masyarakat yang berhasil, di mana proses untuk mendokumentasikan dan menganalisanya sedang berjalan hingga saat ini. Masyarakat mengelola api di hutan-hutan dengan berbagai cara, mulai dalam perannya sebagai tenaga buruh hingga pengambil keputusan. Tidak heran apabila tidak ada ‘satu untuk semua’ rumusan tentang bagaimana masyarakat lokal dapat terlibat secara aktif dalam pencegahan kebakaran. Yang ada adalah suatu kumpulan dari konsepsi-konsepsi politik, kelembagaan, dan ekonomi, serta beraneka-ragam situasi budaya dan ekologi yang spesifik. Meskipun pengelolaan kebakaran berbasis masyarakat hanya dapat berfungsi apabila disesuaikan dengan kondisi-kondisi lokal, namun dalam sistem-sistem pengelolaan kebakaran berbasis masyarakat yang fungsional, ternyata didapatkan beberapa elemen yang sama.
Terpenting adalah rasa memiliki atas sumberdaya. Hal ini merupakan bentuk insentif yang terkuat untuk melindungi sumber daya tersebut. Di Zimbabwe masyarakat melakukan kegiatan pencegahan dan pengendalian kebakaran secara proaktif. Jumlah kebakaran di Vietnam berkurang setelah lahan dialokasikan atau diberikan kepada rumah tangga-rumah tangga. Jika rasa memiliki tidak ada atau sangat lemah, maka harus diciptakan insentif lainnya. Ketiadaan rasa memiliki menjadi penyebab kenapa masyarakat harus dibayar untuk memadamkan kebakaran di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini sangat problematis karena dapat merangsang masyarakat untuk menyalakan api agar mendapatkan penghasilan. Di beberapa daerah lainnya, masyarakat dibayar apabila mereka dapat melewati masa kekeringan/musim kemarau tanpa terjadi kebakaran.
Satu masalah dengan cara pembayaran secara langsung adalah bahwa cara ini mungkin tidak akan dapat dilakukan secara berkesinambungan. Beberapa kelompok masyarakat telah berhasil mengambil alih manajemen kebakaran hutan dari proyek-proyek pendukungnya. Beberapa hal yang dapat dipelajari dari studi yang dilakukan terhadap proyek-proyek tersebut adalah sebagai berikut.
• Alokasi sumber daya perlu direncanakan dengan hati-hati untuk menjamin bahwa masyarakat yang miskin tidak terbebani, terutama apabila manfaat yang didapatkan hanya akan dirasakan di masa yang akan datang.
• Agar kegiatan yang dilakukan berkelanjutan, insentif yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hal ini berarti bahwa apabila masyarakat berminat untuk mengelola kebakaran hutan, maka tujuan dan maksud mereka harus dimengerti.
• Masyarakat perlu memiliki jaminan akan hak kepemilikan atau setidaknya akses yang adil terhadap sumber-sumber daya yang mereka lindungi. Oleh karena itu, penerima manfaat harus diidentifikasi dengan jelas.
• Penting bahwa pemerintah mendukung usaha-usaha pencegahan dan pengawasan kebakaran.
• Tidak ada konflik dan perselisihan atas sumber-sumber daya merupakan hal yang sangat penting karena kerjasama antarmasyarakat diperlukan untuk manajemen kebakaran yang efektif.
• Manajemen kebakaran berbasis masyarakat memerlukan struktur kelembagaan di dalam masyarakat; jika memungkinkan didukung oleh pemerintah.
Agar manajemen kebakaran berjalan dengan efektif, pemberian sanksi hukum sama pentingnya dengan insentif. Pada umumnya, denda dan hukuman lainnya yang dijatuhkan oleh masyarakat berfungsi lebih baik dibandingkan dengan peraturan pemerintah.

Api yang Tidak Diinginkan dan Api yang Bermanfaat
Gambar-gambar di koran yang menunjukkan masyarakat yang tidak berdaya berusaha untuk memadamkan kebakaran hutan tanpa keberhasilan serta miskinnya pemahaman mengenai rejim kebakaran ‘alami’ memberikan ide bahwa semua kebakaran adalah tidak baik dan harus dilawan atau dicegah. Hal ini tidaklah benar. Walaupun sebagian dari kebakaran memang berbahaya dan merugikan, namun beberapa ekosistem membutuhkan kebakaran (api) secara berkala untuk proses-proses ekologis atau untuk membakar habis sisa-sisa tanaman agar kebakaran-kebakaran yang lebih besar, lebih panas, dan lebih merusak dapat dicegah. Di berbagai tempat, penggunaan api oleh masyarakat lokal membantu menjaga keragaman ekosistem melalui pembentukan sebuah mosaik vegetasi dari berbagai tingkatan suksesi yang berbeda. Oleh karena itu, peran api/kebakaran dalam suatu lanskap perlu dikaji secara hati-hati. Sementara itu, pemadaman kebakaran tidak selalu menjadi pendekatan yang tepat.
Bagi industri terdapat metode penyiapan lahan ’tanpa-bakar’ yang memungkinkan secara ekonomi. Lain halnya bagi masyarakat, di mana penggunaan api seringkali merupakan satu-satunya cara yang dapat mereka gunakan dalam penyiapan lahan. Pada umumnya, masyarakat tradisional dapat menggunakan api secara baik dengan menggunakan metode tradisional.
Kesimpulan logis dari hal ini adalah bahwa diperlukan adanya suatu bentuk respon terhadap kebakaran hutan yang lebih seimbang dan membedakan kebakaran-kebakaran yang positif dengan yang merugikan dan berbahaya. Oleh sebab itu, perlu dikembangkan suatu panduan yang dapat mengidentifikasi kebakaran (api) yang diinginkan dan yang tidak diinginkan. Panduan semacam ini perlu disusun sebagai suatu bagian integral dari strategi pemanfaatan lahan yang seimbang dan komprehensif, melalui konsultasi dengan semua pihak terkait.

Langkah ke Depan
Manajemen kebakaran berbasis masyarakat merupakan suatu disiplin baru, yang dapat dianggap sebagai cabang khusus dari pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Berbagai hal menyangkut pengelolaan hutan berbasis masyarakat berkaitan langsung dengan manajemen kebakaran. Selain itu, manajemen kebakaran berbasis masyarakat berfungsi efektif jika menjadi bagian dari strategi pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, apabila memungkinkan dan sesuai, manajemen kebakaran berbasis masyarakat harus dimasukkan dalam program pengelolaan hutan berbasis masyarakat.
Penelitian selanjutnya harus mengkonsolidasi dan menganalisa studi-studi kasus yang telah ada dari berbagai belahan dunia dengan tujuan untuk membuat tipologi yang fleksibel, yang dapat memberikan suatu dasar teori bagi analisa kasus-kasus manajemen kebakaran berbasis masyarakat yang telah ada dan yang baru.
Pemerintah dan aktor-aktor lainnya perlu mengakui dan mendukung pengetahuan dan praktek-praktek tradisional. Termasuk dalam hal ini adalah tinjauan terhadap persepsi-persepsi negatif dari beberapa pemerintahan mengenai perladangan berpindah. Hal ini juga berarti perubahan dalam cara memandang manusia, terutama sekali masyarakat lokal, dari sebagai penyebab masalah menjadi bagian dari solusi. Hal ini akan memperjelas bahwa pemerintah dan pihak lain perlu untuk membuat investasi-investasi yang diperlukan ke dalam aspek-aspek masyarakat dan kelembagaan dan bukannya terus mengeluarkan investasi untuk peralatan dan penerapan hukum.

PEDOMAN MENGHADAPI ANGIN PUTING BELIUNG

Sebelum datangnya angin
1. Mewaspadai perubahan cuaca.
2. Mendengarkan dan menyimak siaran radio atau televisi menyangkut prakiraan cuaca setempat terkini.
3. Mewaspadai angin putting beliung yang mendekat.
4. Waspadai tanda-tanda bahaya sebagai berikut:
• Langit gelap, sering berwarna kehijauan.
• Awan rendah, hitam, besar, seringkali bergerak berputar
• Hujan es dengan butiran besar
• Suara keras seperti bunyi kereta api cepat
5. Bersiap untuk berlindung di bunker atau dalam rumah.

Pada saat datangnya angin
1. Bila dalam keadaan bahaya segeralah ke tempat perlindungan (bunker).
2. Jika berada di dalam bangunan seperti rumah, gedung perkantoran, sekolah, rumah sakit, pabrik, pusat perbelanjaan, gedung pencakar langit, maka yang harus dilakukan adalah segera menuju ke ruangan yang telah dipersiapkan untuk menghadapi keadaan tersebut seperti sebuah ruangan yang dianggap paling aman, basement, ruangan anti badai, atau di tingkat lantai yang paling bawah. Bila tidak terdapat basement, segeralah ke tengah tengah ruangan pada lantai terbawah, jauhilah sudut sudut ruangan, jendela, pintu, dan dinding terluar bangunan. Semakin banyak sekat dinding antara diri anda dengan dinding terluar gedung semakin aman. Berlindunglah di bawah meja gunakan lengan anda untuk melindungi kepala dan leher anda. Tidak membuka jendela.
3. Jika sedang berkendara (sepeda motor, mobil), segera hentikan dan tinggalkan, kendaraan anda serta carilah tempat perlindungan yang terdekat seperti yang telah disebutkan di atas.
4. Jika anda berada di luar ruangan dan jauh dari tempat perlindungan, maka yang anda harus lakukan adalah sebagai berikut:
• Tiaraplah pada tempat yang serendah mungkin, saluran air terdekat atau sejenisnya sambil tetap melindungi kepala dan leher dengan menggunakan lengan anda
• Tidak berlindung di bawah jembatan, jalan layang, jembatan penyeberangan, dan sejenisnya. Lebih aman tiarap pada tempat yang datar dan rendah.
• Tidak berusaha melarikan diri dari angin puting beliung dengan menggunakan kendaraan bermobil bila di daerah yang berpenduduk padat atau yang bangunannya banyak. Segera tinggalkan kendaraan anda untuk mencari tempat perlindungan terdekat.
• Hati-hati terhadap benda-benda yang diterbangkan angin puting beliung karena dapat menyebabkan cedera serius bahkan kematian.