Selasa, 28 April 2015




Menghadapi Kemarau, BPBD Kab. Ogan Ilir menggelar Rapat Koordinasi "Rencana Kontijensi Bencana Kabut Asap"(selasa, 28 /04/2015)





Menjelang musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ogan Ilir mulai siap-siap untuk menghadapi bencana yang diperkirakan akan datang. Berkaca pada tahun-tahun sebelumnya dimana pada musim kemarau dipastikan akan datangnya bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan, yang rutin terjadi di Kabupaten Ogan Ilir. 

Persiapan dilakukan dengan menggelar rapat penyusunan rencana Kontijensi Bencana Asap Akibat Kebakaran Hutan dan Lahan yang berlangsung di Ruang Rapat Bupati Kab. Ogan Ilir pada hari selasa tanggal 28 April 2014. Rapat dilakukan untuk merumuskan rencana aksi yang akan menjadi acuan bagi kabupaten Ogan Ilir dalam menangani dan menanggulangi bencana asap, rapat tersebut dihadiri oleh seluruh camat dalam Kabupaten Ogan Ilir dan SKPD terkait. 

“Bencana asap rutin terjadi di Ogan Ilir setiap musim kemarau. Bencana Asap telah menimbulkan banyak kerugian, dari sisi kesehatan, gangguan aktivitas,  perekonomian maupun aktivitas Sekolah ".

Drs. Ahmad Syakroni, S,Sos, MM selaku kepala pelaksana BPBD Kab. Ogan Ilir menghimbau supaya para camat melakukan koordinasi dengan stakeholders terkait dan dihimbau untuk membentuk relawan desa dan menjadikan salah satu desanya menjadi desa tangguh bencana". yang sebelumnya di Kab. Ogan Ilir sudah mempunyai 2 desa tangguh yaitu Desa Tj. Pring dengan Desa Sungai Rambutan.

"Pada saat bencana asap tahun lalu, banyak mengakibatkan kerugian materiil maupun inmateriil, Oleh sebab itu, diperlukan rencana aksi yang cepat dan tepat untuk menanggulangi bencana asap dan untuk meminimalisir kerugian yang ditimbulkan,” tutur Ass. II Sekda Kabupaten Ogan Ilir  usai membuka Rapat Rencana Kontijensi Bencana As
ap


Senin, 20 April 2015

TERHITUNG jelak bulan Januari sampai dengan bulan April 2015, lewat dana APBD TA 2015 BPBD Kab. Ogan Ilir sudah menyalurkan  bantuan ke masyarakat akibat beberapa macam bencana, diantaranya kebakaran dan angin puting beliung.



Adapun data kejadian kebakaran dalam kurun waktu 4 bulan tersebut, yaitu  Januari (6 -01 2015) kebakaran di Dusun II Desa Bekti Meranjat Kec. Indralaya Selatan, februari tepatnya tanggal 2 februarai 2015  di Kel. Tanjung Raja Barat dan Ds. Talang Balai Baru 2 Kecamatan Tanjung Raja, dan pada Bulan Maret (9- 4 2015) terjadi kebakaran di KTM SP. 2 Kec. Indralaya Utara rata-rata kebakaran tersebut akibat konslet arus listrik



Sementara, bencana akibat angin puting beliung yang menyebabkan robohnya rumah terjadi di 3 tempat dalam kurun waktu 4 bulan diantaranya yaitu di Ds. penyandingan RT. 03 Kec. Sungai Pinang,  Dsn I Desa Lubuk Sakti Kec. Indralaya dan Ds. I Muara Penimbung Ulu kec. Indralaya 
 


Bantuan yang diserahkan diantarakan perlengkapan alat dapur, dan persediaan bahan makanan.....*****

"Kita berharap agar warga tetap waspada terhadap faktor-faktor terjadinya bencana, kita telah siap-siagakan seluruh satgas yang ada di  BPBD Kab. Ogan Ilir."





PETA RAWAN BENCANA DI KABUPATEN OGAN ILIR

PETA RAWAN BENCANA 
DI KABUPATEN OGAN ILIR

1.  PETA RAWAN BANJIR 
DI KABUPATEN OGAN ILIR



2.  PETA RAWAN BENCANA KEBAKARAN LAHAN DI KABUPATEN OGAN ILIR
3. PETA RAWAN BENCANA ANGIN PUTING BELIUNG
 DI KABUPATEN OGAN ILIR

Selasa, 24 Maret 2015

RAPAT KOORDNASI TANGGAP DARURAT BENCANA BANJIR DI KAB OI


RAPAT KOORDINASI TANGGAP DARURAT BENCANA BANJIR
DI KABUPATEN OGAN ILIR TAHUN 2015


Kamis, 5 Februari 2015

            Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD ) Kabupaten Ogan Ilir mengadakan Rapat Tanggap Darurat Bencana Banjir yang dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 5 Februari 2014. Rapat tersebut digelar di Ruang Rapat Bupati Pemkot Ogan Ilir Tanjung Senai.
            Rapat yang dihadiri oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Ogan Ilir Bapak H. Sobli, M.Si, Asisten I Bapak Wilson, SH, dan sejumlah pimpinan/staf SKPD, serta para Camat Se-Kabupaten Ogan Ilir.
Rapat dipimpin langsung oleh Bapak H. Sobli, M.Si (Sekda OI) 

Sambutan oleh Bapak Drs, Ahmad Syakroni, S. Sos, MM ( Kalak BPBD OI)

            Acara Rapat ini dibuka langsung oleh Bapak H. Sobli, M.Si selaku Sekretaris Daerah Kabupaten Ogan Ilir. Selanjutnya Rapat dipimpin langsung oleh Asisten I yaitu Bapak Wilson, SH dan Kalak BPBD Ogan Ilir Bapak Drs. Ahmad Syakroni, S.Sos, MM. dalam rapat tersebut menginstruksikan kepada seluruh SKPD, terutama SKPD terkait untuk segera melakukan upaya-upaya untuk dapat bersiap siaga darurat bencana banjir mengingat tingkat hujan di Kabupaten Ogan Ilir mulai meningkat.

            Menurut perkiraan cuaca dari  BMKG Palembang curah hujan akan terjadi pada bulan Desember 2014 hingga Maret 2015. Dalam rapat tersebut Bapak Wilson (Asisten I Kabupaten Ogan Ilir) memberikan saran kepada BPBD Kabupaten Ogan Ilir sebaiknya ada cabang, relawan di Desa tidak hanya di Kecamatan yang hanya berjumlah 6 orang karena kemungkinan tidak cukup, selain itu untuk daerah yang rawan banjir sebaliknya disiapkan alat perahu karet dan untuk Daerah yang rawan kebakaran hutan dan lahan disiapkan alat pompa air.   




Peserta Rapat Koordinasi Tanggap Darurat Banjir
(SKPD terkait dan Camat se-Kabupaten OI)
 
            Dalam Rapat Koordinasi ini, menyimpulkan bahwa sementara waktu ini kondisi masih aman dan stabil khususnya di daerah-daerah Rawan Bencana seperti Kecamatan Rantau Alai, Tanjung Raja, Rambang Kuang, Muara Kuang maupun Desa Sungai Rambutan. Tetapi dalam Rapat Koordinasi tersebut Asisten I menghimbau kepada aparat Desa setempat untuk tetap waspada dan terus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Ogan Ilir.
 



PEDOMAN PENANGGULANGAN KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

Manajemen Kebakaran Berbasis Masyarakat

Pada saat kebakaran yang tidak diinginkan merusak hutan dan aset lainnya, masyarakat lokal seringkali dianggap dan dicurigai sebagai penyebab karena mereka membakar hutan sewaktu menyiapkan lahan untuk kegiatan pertanian. Kalaupun tidak dipersalahkan, masyarakat lokal cenderung dipandang sebagai korban yang tidak berdaya, yang harus menanggung dampak negatif dari kebakaran hutan dan/atau lahan. Berbagai penelitian yang dilakukan di seluruh dunia menunjukkan bahwa persepsi ini perlu ditinjau kembali karena masyarakat lokal melakukan pengelolaan kebakaran dalam berbagai situasi dan untuk berbagai alasan yang berbeda. Bahkan masyarakat lokal seringkali menjadi yang terbaik dalam mengelola atau mencegah kebakaran pada skala lokal. Masyarakat lokal pun mempunyai peran yang semakin penting dalam manajemen kebakaran di negara-negara yang pemerintahannya memiliki keterbatasan untuk menangani kebakaran hutan.
Keberhasilan pelibatan masyarakat dalam manajemen kebakaran bergantung pada berbagai faktor. Motivasi masyarakat untuk mengelola kebakaran dipengaruhi oleh seberapa besar ketergantungan mereka dan/atau hak yang mereka miliki untuk menggunakan dan memiliki akses terhadap sumber-sumber daya hutan. Meskipun demikian, penting untuk disadari bahwa masyarakat tidak dapat memberikan solusi lengkap dalam menangani kebakaran hutan yang berbahaya. Pihak-pihak lain yang terlibat, termasuk pemerintah dan sektor swasta, harus ikut memainkan peranan penting, khususnya dalam persiapan menghadapi dan memadamkan kebakaran yang luas.
Berkaitan dengan penggunaan api untuk pertanian oleh masyarakat, perlu dibedakan antara api yang bermanfaat dan api yang membahayakan. Bagi masyarakat, api merupakan satu-satunya alat yang tersedia untuk menyiapkan lahan. Penggunaan api biasanya mampu dikendalikan dan skalanya pun kecil. Perlu dipahami bahwa api menjadi masalah jika penggunaannya lepas kendali.
Project Fire Fight South East Asia (PFFSEA) telah memfasilitasi pembentukan jaringan internasional bagi para peneliti dan praktisi untuk penelitian, promosi, dan mendukung lebih lanjut manajemen kebakaran berbasis masyarakat. Saat ini, manajemen kebakaran berbasis masyarakat semakin banyak menarik perhatian. Hal ini disebabkan karena adanya minat terhadap manajemen sumber daya berbasis masyarakat. Selain itu disebabkan semakin seringnya bencana kebakaran di seluruh dunia yang terjadinya akhir-akhir ini, sehingga penting untuk menemukan alternatif cara pencegahan bencana dalam skala yang sama di masa yang akan datang.

Mengapa Melibatkan Masyarakat dalam Manajemen Kebakaran?

Penduduk lokal seringkali berada dalam posisi terbaik untuk mengelola dan mencegah kebakaran pada skala lokal. Banyak kelompok masyarakat yang memiliki pengetahuan dan praktek-praktek tradisional dalam penggunaan api, yang terbukti sangat efektif. Banyak dari pengetahuan ini yang tidak ditemukan dan tidak dimanfaatkan. Peranan masyarakat lokal menjadi nyata apabila disadari bahwa kapasitas pemerintah pada tingkat lokal sangat terbatas.
Bagi masyarakat, agar mereka dapat berperan dalam pengelolaan kebakaran, mereka perlu memiliki kontrol atas sumber-sumber daya hutan dan sekaligus pengelolaannya. Oleh karena itu, promosi manajemen kebakaran berbasis masyarakat akan memperkuat konsep di mana penduduk lokal memiliki kontrol tertentu atas sumber-sumber daya hutan. Hal ini sejalan dengan gerakan demokratisasi dan desentralisasi yang terjadi di banyak negara saat ini.
Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa masyarakat tidak dapat memberikan solusi lengkap bagi kebakaran hutan. Masyarakat hanya merupakan satu bagian dari suatu pendekatan holistik untuk pengelolaan kebakaran yang memerlukan keterlibatan seluruh pihak-pihak yang terkait dengan pengelolaan lahan, terutama pemerintah dan sektor swasta. Di banyak negara, pihak swasta hampir tidak memainkan peranan dalam manajemen kebakaran hutan, meskipun fakta-fakta menunjukkan bahwa di beberapa negara sektor tersebut merupakan penyebab utama dari kebakaran-kebakaran besar.

Mengapa Masyarakat Tidak Mengelola Kebakaran?
Perubahan-perubahan dalam budaya dan praktek-praktek lokal dapat mengakibatkan kebakaran hutan yang tidak terkendali. Hal ini terjadi pada saat pengelolaan hutan secara tradisional tidak dilanjutkan lagi. Generasi yang lebih tua tidak lagi menurunkan keterampilan dan pengetahuan mereka kepada generasi yang lebih muda, sehingga menyebabkan terjadinya kesenjangan pengetahuan. Faktor lain adalah migrasi. Para pendatang yang tidak berpengalaman, yang tidak terbiasa dan tidak mempunyai keterikatan dengan lingkungan yang baru, serta tidak terikat dengan aturan-aturan tradisional, kadang-kadang membiarkan api lepas kendali. Hal ini menggambarkan pentingnya keterpaduan dan keterikatan masyarakat terhadap sumber-sumber daya lokal, baik untuk alasan ekonomi maupun alasan sentimental. Kepastian hak atas lahan merupakan insentif yang sangat penting bagi masyarakat untuk mencegah dan mengawasi kebakaran.
Api juga dapat digunakan sebagai senjata oleh mereka yang miskin dan tidak berdaya. Terdapat banyak contoh di seluruh dunia, di mana kelompok-kelompok masyarakat menggunakan api untuk merusak hutan-hutan alam atau perkebunan-perkebunan sebagai tindakan balas dendam atau untuk alasan-alasan politis. Oleh sebab itu, perbaikan manajemen api dapat dicapai melalui penanganan sebab-sebab dasar kebakaran hutan, misalnya pengalokasian lahan yang tidak adil.

Kapan Masyarakat Mengelola Kebakaran?

Sudah banyak contoh manajemen kebakaran berbasis masyarakat yang berhasil, di mana proses untuk mendokumentasikan dan menganalisanya sedang berjalan hingga saat ini. Masyarakat mengelola api di hutan-hutan dengan berbagai cara, mulai dalam perannya sebagai tenaga buruh hingga pengambil keputusan. Tidak heran apabila tidak ada ‘satu untuk semua’ rumusan tentang bagaimana masyarakat lokal dapat terlibat secara aktif dalam pencegahan kebakaran. Yang ada adalah suatu kumpulan dari konsepsi-konsepsi politik, kelembagaan, dan ekonomi, serta beraneka-ragam situasi budaya dan ekologi yang spesifik. Meskipun pengelolaan kebakaran berbasis masyarakat hanya dapat berfungsi apabila disesuaikan dengan kondisi-kondisi lokal, namun dalam sistem-sistem pengelolaan kebakaran berbasis masyarakat yang fungsional, ternyata didapatkan beberapa elemen yang sama.
Terpenting adalah rasa memiliki atas sumberdaya. Hal ini merupakan bentuk insentif yang terkuat untuk melindungi sumber daya tersebut. Di Zimbabwe masyarakat melakukan kegiatan pencegahan dan pengendalian kebakaran secara proaktif. Jumlah kebakaran di Vietnam berkurang setelah lahan dialokasikan atau diberikan kepada rumah tangga-rumah tangga. Jika rasa memiliki tidak ada atau sangat lemah, maka harus diciptakan insentif lainnya. Ketiadaan rasa memiliki menjadi penyebab kenapa masyarakat harus dibayar untuk memadamkan kebakaran di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini sangat problematis karena dapat merangsang masyarakat untuk menyalakan api agar mendapatkan penghasilan. Di beberapa daerah lainnya, masyarakat dibayar apabila mereka dapat melewati masa kekeringan/musim kemarau tanpa terjadi kebakaran.
Satu masalah dengan cara pembayaran secara langsung adalah bahwa cara ini mungkin tidak akan dapat dilakukan secara berkesinambungan. Beberapa kelompok masyarakat telah berhasil mengambil alih manajemen kebakaran hutan dari proyek-proyek pendukungnya. Beberapa hal yang dapat dipelajari dari studi yang dilakukan terhadap proyek-proyek tersebut adalah sebagai berikut.
• Alokasi sumber daya perlu direncanakan dengan hati-hati untuk menjamin bahwa masyarakat yang miskin tidak terbebani, terutama apabila manfaat yang didapatkan hanya akan dirasakan di masa yang akan datang.
• Agar kegiatan yang dilakukan berkelanjutan, insentif yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hal ini berarti bahwa apabila masyarakat berminat untuk mengelola kebakaran hutan, maka tujuan dan maksud mereka harus dimengerti.
• Masyarakat perlu memiliki jaminan akan hak kepemilikan atau setidaknya akses yang adil terhadap sumber-sumber daya yang mereka lindungi. Oleh karena itu, penerima manfaat harus diidentifikasi dengan jelas.
• Penting bahwa pemerintah mendukung usaha-usaha pencegahan dan pengawasan kebakaran.
• Tidak ada konflik dan perselisihan atas sumber-sumber daya merupakan hal yang sangat penting karena kerjasama antarmasyarakat diperlukan untuk manajemen kebakaran yang efektif.
• Manajemen kebakaran berbasis masyarakat memerlukan struktur kelembagaan di dalam masyarakat; jika memungkinkan didukung oleh pemerintah.
Agar manajemen kebakaran berjalan dengan efektif, pemberian sanksi hukum sama pentingnya dengan insentif. Pada umumnya, denda dan hukuman lainnya yang dijatuhkan oleh masyarakat berfungsi lebih baik dibandingkan dengan peraturan pemerintah.

Api yang Tidak Diinginkan dan Api yang Bermanfaat
Gambar-gambar di koran yang menunjukkan masyarakat yang tidak berdaya berusaha untuk memadamkan kebakaran hutan tanpa keberhasilan serta miskinnya pemahaman mengenai rejim kebakaran ‘alami’ memberikan ide bahwa semua kebakaran adalah tidak baik dan harus dilawan atau dicegah. Hal ini tidaklah benar. Walaupun sebagian dari kebakaran memang berbahaya dan merugikan, namun beberapa ekosistem membutuhkan kebakaran (api) secara berkala untuk proses-proses ekologis atau untuk membakar habis sisa-sisa tanaman agar kebakaran-kebakaran yang lebih besar, lebih panas, dan lebih merusak dapat dicegah. Di berbagai tempat, penggunaan api oleh masyarakat lokal membantu menjaga keragaman ekosistem melalui pembentukan sebuah mosaik vegetasi dari berbagai tingkatan suksesi yang berbeda. Oleh karena itu, peran api/kebakaran dalam suatu lanskap perlu dikaji secara hati-hati. Sementara itu, pemadaman kebakaran tidak selalu menjadi pendekatan yang tepat.
Bagi industri terdapat metode penyiapan lahan ’tanpa-bakar’ yang memungkinkan secara ekonomi. Lain halnya bagi masyarakat, di mana penggunaan api seringkali merupakan satu-satunya cara yang dapat mereka gunakan dalam penyiapan lahan. Pada umumnya, masyarakat tradisional dapat menggunakan api secara baik dengan menggunakan metode tradisional.
Kesimpulan logis dari hal ini adalah bahwa diperlukan adanya suatu bentuk respon terhadap kebakaran hutan yang lebih seimbang dan membedakan kebakaran-kebakaran yang positif dengan yang merugikan dan berbahaya. Oleh sebab itu, perlu dikembangkan suatu panduan yang dapat mengidentifikasi kebakaran (api) yang diinginkan dan yang tidak diinginkan. Panduan semacam ini perlu disusun sebagai suatu bagian integral dari strategi pemanfaatan lahan yang seimbang dan komprehensif, melalui konsultasi dengan semua pihak terkait.

Langkah ke Depan
Manajemen kebakaran berbasis masyarakat merupakan suatu disiplin baru, yang dapat dianggap sebagai cabang khusus dari pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Berbagai hal menyangkut pengelolaan hutan berbasis masyarakat berkaitan langsung dengan manajemen kebakaran. Selain itu, manajemen kebakaran berbasis masyarakat berfungsi efektif jika menjadi bagian dari strategi pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, apabila memungkinkan dan sesuai, manajemen kebakaran berbasis masyarakat harus dimasukkan dalam program pengelolaan hutan berbasis masyarakat.
Penelitian selanjutnya harus mengkonsolidasi dan menganalisa studi-studi kasus yang telah ada dari berbagai belahan dunia dengan tujuan untuk membuat tipologi yang fleksibel, yang dapat memberikan suatu dasar teori bagi analisa kasus-kasus manajemen kebakaran berbasis masyarakat yang telah ada dan yang baru.
Pemerintah dan aktor-aktor lainnya perlu mengakui dan mendukung pengetahuan dan praktek-praktek tradisional. Termasuk dalam hal ini adalah tinjauan terhadap persepsi-persepsi negatif dari beberapa pemerintahan mengenai perladangan berpindah. Hal ini juga berarti perubahan dalam cara memandang manusia, terutama sekali masyarakat lokal, dari sebagai penyebab masalah menjadi bagian dari solusi. Hal ini akan memperjelas bahwa pemerintah dan pihak lain perlu untuk membuat investasi-investasi yang diperlukan ke dalam aspek-aspek masyarakat dan kelembagaan dan bukannya terus mengeluarkan investasi untuk peralatan dan penerapan hukum.

PEDOMAN MENGHADAPI ANGIN PUTING BELIUNG

Sebelum datangnya angin
1. Mewaspadai perubahan cuaca.
2. Mendengarkan dan menyimak siaran radio atau televisi menyangkut prakiraan cuaca setempat terkini.
3. Mewaspadai angin putting beliung yang mendekat.
4. Waspadai tanda-tanda bahaya sebagai berikut:
• Langit gelap, sering berwarna kehijauan.
• Awan rendah, hitam, besar, seringkali bergerak berputar
• Hujan es dengan butiran besar
• Suara keras seperti bunyi kereta api cepat
5. Bersiap untuk berlindung di bunker atau dalam rumah.

Pada saat datangnya angin
1. Bila dalam keadaan bahaya segeralah ke tempat perlindungan (bunker).
2. Jika berada di dalam bangunan seperti rumah, gedung perkantoran, sekolah, rumah sakit, pabrik, pusat perbelanjaan, gedung pencakar langit, maka yang harus dilakukan adalah segera menuju ke ruangan yang telah dipersiapkan untuk menghadapi keadaan tersebut seperti sebuah ruangan yang dianggap paling aman, basement, ruangan anti badai, atau di tingkat lantai yang paling bawah. Bila tidak terdapat basement, segeralah ke tengah tengah ruangan pada lantai terbawah, jauhilah sudut sudut ruangan, jendela, pintu, dan dinding terluar bangunan. Semakin banyak sekat dinding antara diri anda dengan dinding terluar gedung semakin aman. Berlindunglah di bawah meja gunakan lengan anda untuk melindungi kepala dan leher anda. Tidak membuka jendela.
3. Jika sedang berkendara (sepeda motor, mobil), segera hentikan dan tinggalkan, kendaraan anda serta carilah tempat perlindungan yang terdekat seperti yang telah disebutkan di atas.
4. Jika anda berada di luar ruangan dan jauh dari tempat perlindungan, maka yang anda harus lakukan adalah sebagai berikut:
• Tiaraplah pada tempat yang serendah mungkin, saluran air terdekat atau sejenisnya sambil tetap melindungi kepala dan leher dengan menggunakan lengan anda
• Tidak berlindung di bawah jembatan, jalan layang, jembatan penyeberangan, dan sejenisnya. Lebih aman tiarap pada tempat yang datar dan rendah.
• Tidak berusaha melarikan diri dari angin puting beliung dengan menggunakan kendaraan bermobil bila di daerah yang berpenduduk padat atau yang bangunannya banyak. Segera tinggalkan kendaraan anda untuk mencari tempat perlindungan terdekat.
• Hati-hati terhadap benda-benda yang diterbangkan angin puting beliung karena dapat menyebabkan cedera serius bahkan kematian.